Featured Slider

Choosing My Circle at 40+: Between Growth, Peace & Purpose

Tidak ada komentar

 

Choosing My Circle at 40+: Between Growth, Peace & Purpose

There's something beautifully different about entering your 40 plus plus season of life. It's quieter, wiser and somehow more intentional.

Di fase ini, aku mulai menyadari satu hal penting: not everyone is meant to stay in your circle dan itu bukan hal yang menyedihkan, but actually empowering.

Learning to Choose, Not Just Accept

Dulu, aku termasuk orang yang "ikut saja". Ikut komunitas ini, hadir di acara itu, mencoba stay connected dengan banyak orang. But now? I choose, I filter and I prioritize.

Di usia sekarang, aku mulai membatasi dan memilih circle, bukan karena sombong, but because I finally understand what truly matters:

  • Ketenangan hati
  • Kesehatan fisik & mental
  • Growth yang aligned dengan purpose hidup

My Travel Business: A Journey with Gen X & Baby Boomers

Dalam bisnis travel Haji Umroh yang aku bangun, tim mitra aku mayoritas berada di usia 45 tahun ke atas yaitu Gen X dan Baby Boomer and honestly? It's a whole different dynamic.

Aku bertemu dengan berbagai karakter: 

  • Ada yang produktitivitasnya tidak secepat generasi muda
  • Tidak suka terburu-buru dan di buru buru (kejar deadline)
  • Lebih santai dalam mengambil keputusan (sudah tidak terlalu ambisius)
  • Dan yes, ada juga yang sedikit "baperan"

At first, it was challenging. Aku yang terbiasa dengan ritme cepat, harus belajar slowing down. But then I realized: This is where growth happens. Because understanding people is part of building a sustainable business. Apalagi di industri travel, yang sangat mengandalkan trust, komunikasi dan kenyamanan.

"When you learn how to speak their language, you build not just a team, but family."

Justru dari sini aku belajar lebih sabar, lebih empati dan lebih bijak dalam komunikasi and suprisingly, I enjoy it.

Setiap travel haji umroh itu wajib daftar di Asosiasi dan kalau di asosisasi, ceritanya berbeda lagi. Lebih random. Dari milenial sampai baby boomer semua ada, bahkan mungkin sekarang ada travel baru yang ownernya dari kalangan Gen Z.

Ini seperti "mini dunia nyata" dimana semua karakter berkumpul jadi satu. Ada yang manipulatif, ada yang memiliki ambisi, ada yang tidak mau terkalahkan, ada yang adem ayem sampai hanya sekedar syarat saja bergabung dan berinteraksi di asosiasi.

Kadang melelahkan, but also enriching. Karena disini aku belajar bagaimana menyampaikan ide ke generasi muda dengan cara yang engaging dan di saat yang sama, tetap menghormati cara berpikir generasi yang lebih senior. 

It's like switching languages, emotionally and intellectually.

Protecting My Energy: New Priority

Seiring waktu, aku juga mulai menyadari bahwa energy is currency. Aku mulai membatasi aktivitas. Tidak lagi menghadiri semua undangan. Tidak lagi merasa harus selalu ada. 

Now I ask myself:

  • Apakah ini membawa kebahagiaan?
  • Apakah ini memberi ketenangan?
  • Apakah ini baik untuk kesehatan fisik dan rohani aku?
  • Apakah ini memberikan dampak baik demi kemajuan bisnis aku?

Kalau jawabannya tidak, then I gently step back. Because at tis stage of life, peace is non-negotiable.

My Modest Fashion Business: Where Creativity Flows

Berbeda dengan bisnis travel, di bisnis modest fashion, aku justru memilih segmen yang lebih luas, dari Gen Z sampai Gen X and oh, I Love this space! Circle di sini terasa lebih: vibrant, expressive, penuh ide segar. 

Gen Z membaca kreativitas dan keberanian, Gen Milenial membawa aku untuk bereksperimen, sementara Gen X memberi kestabilan dan pengalaman. It's a perfect balance. Walau tetap di usia ku 40+ ini, aku tetap membatasi dan memilih mana yang ada di dalam list pertemanan ku.

"Creativity grows when you surround yourself with people who dare to think differently

So... Is My Circle Growing or Shinking?

Ini pertanyaan yang sering muncul. Apakah circle aku semakin bertambah? Atau justru berkurang? Jawabannya: neither. Tidak bertambah dan tidak juga berkurang. 

Aku hanya mengganti. Mengganti dengan yang lebih:

  • Aligned dengan visi hidup aku
  • Mendukung perjalanan aku 5-10 tahun ke depan
  • Membawa aku lebih dekat dengan versi terbaik diri aku.

Because at the end of the day, it's not about how many people are in your circle, but who truly belongs there.

Closing Reflection

Di usia 40+, hidup bukan lagi tentang proving something to the world, it's about: living with intention, choosing with awareness and surrounding yourself with the right people.

Aku bersyukur dengan perjalanan ini. Dengan semua karakter yang aku temui, dengan semua dinamika yang kadang menguras energi, tapi juga membentuk aku jadi lebih kuat.

And if you're in the same phase as me...

  • It's okay to choose
  • It's okay to outgrow people
  • It's okay to protect your peace

Because you deserve a circle that feels like home 🤍




Networking Lessons from Gen Z

Tidak ada komentar

 

Networking Lessons from Gen Z


I have always believed bahwa networking adalah salah satu kunci utama dalam bertumbuh. Tapi jujur saja, cara aku membangun relasi dulu sangat berbeda dengan apa yang aku lihat sekarang, especially dari Gen Z.

And yes, one of my biggest teachers is...my own child 😊. Anak sulung aku yang saat ini masih kuliah, tapi sudah mulai merintis bisnisnya sendiri. Watching his journey feels like opening a new window. Cara dia connect, engage dan build trust dengan orang lain itu fresh banget.

1. Authenticity is the New Currency

Kalau dulu kita diajarkan untuk selalu "formal" dalam berjejaring. Gen Z malah sebaliknya. They show up as they are. Aku melihat anakku tidak takut untuk menjadi diri sendiri di depan calon partner bisnis. He shares his journey, struggles, bahkan hal-hal kecil yang relatable. and suprisingly, that builds stronger connections.

Lesson learned: Networking bukan soal terlihat "sempurna", tapi soal menjadi real dan relatable

In my own experience, ketika aku mulai lebih open saat sharing di komunitas Gen Z, terutama dalam bidang bisnis (karena aku lebih sering di undang jadi narasumber untuk sharing seputar bisnis), malah responnya lebih hangat. Mereka connect dengan cerita, bukan hanya pencapaian.

2. Digital Networking is Not Optional, It's Essential

Gen Z hidup di dunia digital and they maximize it. Anakku bisa dapat peluang kolaborasi hanya dari DM Instagram atau LinkedIn. He builds relationships not only offline, but consistently online. 

Aku jadi tersadar, bahwa sebagai business owner, kita tidak bisa hanya mengandalkan networking konvensional seperti event atau seminar.

Lesson learned: Your Digital presence is your new business card.

Sekarang aku pun mulai lebih aktif membangun personal branding, sharing daily life sebagai muslimahpreneur, perjalanan umroh hingga behind the scene bisnis, and it works.

3. Community Over Competition

Ini yang paling aku kagumi. Gen Z sangat kuat dalam membangun komunitas. Aku beberapa kali diundang sebagai pembicara di komunitas yang mayoritas Gen Z. Yang aku lihat bukan persaingan, tapi kolaborasi. Mereka saling support, share resources, bahkan promote each other.

It's not "me vs you" anymore. It's "Let's grow together."

Lesson learned: Networking terbaik bukan sekedar menambah kontak, tapi membangun ekosistem.

Ini mengingatkan aku bahwa dalam bisnis travel atau modest fashion, kolaborasi bisa jauh lebih powerful daripada berjalan sendiri.

4. Value First, Then Relationship

Gen Z tidak suka Hard Selling dan ini sangat terasa. Anakku selalu fokus pada bagaimana dia bisa memberikan value terlebih dahulu. Entah itu melalui konten, insight atau bahkan sekadar membantu orang lain connect ke orang yang tepat.

Without realizing it, hubungan yang terbangun jadi lebih tulus.

Lesson learned: Give before you ask.

Dalam perjalanan aku sebagai muslimahpreneur, aku mulai mengubah pendekatan. Bukan langsung menawarkan produk, tapi lebih ke sharing manfaat, edukasi dan inspirasi.

5. Fast, Responsive and Intentional

Gen Z itu cepat. Respon cepat, decision cepat bahkan networking pun cepat. Tapi bukan berarti asal-asalan. Mereka tetap intentional, memilih mana relasi yang sejalan dengan value mereka. Aku belajar untuk lebih menghargai waktu dalam networking. Tidak menunda fllow up, tidak membiarkan pesan menggantung terlalu lama.

Lesson learned: Respect time, yours and others.

Reflection: Bridging Generation in Business

Honestly, being in between, sebagai Gen X atau Milenial yang banyak berinteraksi dengan Gen Z itu seperti menjadi jembatan. Aku belajar bahwa tidak ada cara yang "paling benar" dalam networking. Tapi ada cara yang lebih relevan dengan zaman.

Sebagai seorang muslimahpreneur, aku merasa penting untuk terus adaptif. Karena bisnis bukan hanya tentang produk, tapi tentang people and connection.

Closing Thoughts

Pelajaran networking dari Gen Z ini membuka mata aku bahwa dunia sudah berubah and we need to evolve. 

  • From being formal to being authentic
  • From selling to serving
  • From competing to collaborating

And the most beautiful part? Aku belajar ini bukan dari buku atau seminar mahal, tapi dari anak aku sendiri dan dari komunitas Gen Z yang aku temui di perjalanan.

So, for you, para milenial atau Gen X yang sedang membangun bisnis, maybe it's time to pause and reflect: Are We Networking or Just Collecting Contact.

Karena pada akhirnnya, networking yang kuat bukan tentang seberapa banyak orang yang kita kenal, tapi seberapa dalam hubungan yang kita bangun.






Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

1 komentar


Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

Ada satu hal yang selalu bikin aku tersenyum sendiri setiap kali membuka folder lama di laptop, draft blog posts dari tahun 2010. Yes, that was the year I started my journey as a fashion blogger. Back to 2010, back to the era when blogging felt so pure, so personal and so magical

Masa dimana blogging bukan sekadar "content writer" or "content creation", tapi benar-benar tentang pasion, self-expression dan heart. It wasn't about algorithms, or engagement rates. It was about expression, it was about stories, it was about being unapologetically YOU. and honestly... that's what I miss the most.

The Rawness and Authenticity

Dulu, blogging itu rasanya seperti punya diary online. No pressure and No perfection. Seperti curhat sama teman saja. Mau nulis panjang, mau nulis pendek atau hanya post foto foto saja. 

Sekarang? Everything feels curated. Beautiful, yes. But sometimes... less soulful. Back then, setiap blog punya "jiwa". You could feel the person behind the screen.

My Fashion Blogger Inspirations Back Then

Di masa itu, aku punya dua fashion blogger yang benar-benar aku admire. Mereka bukan hanya stylish, tapi juga punya karakter yang kuat dalam setiap karya mereka.

One of them was Diana Rikasari with her iconic blog Hot Chocolate & Mint

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

Her style? Oh, so cheerful and colorful! She wasn't afraid of mixing patterns, playing with bold colors and being different. I Admired how she turned fashion into something playful and expressive.

She also loved DIY and upcyycling, dan aku benar-benar terinspirasi dari situ. I remember following her tutorials, cutting, sewing and transforming old clothes at home into something "new". It felt empowering and felt creative.

Fashion Blogger number two is Clara Devi from Lucedaleco. If Diana was bold and colorful, Clara was the opposite side of beauty, vintage, elegant and girly dan jujur, Clara's style was so me.

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

I felt deeply connected to her aesthetic. Soft tones, feminine silhouttes, timeless elegance. But of course, as my journey evolved, especially after I decided to fully embrace modest fashion, wearing hijab, gamis and long skirts. I adapted that style into my current identity.

From Blogging to Building a Brand

Yang aku kagumi dari mereka bukan hanya konsistensi dalam blogging, tapi juga bagaimana mereka evolve. Today, they are still actively sharinng, baik di blog maupun di Instagram. Not only that, mereka juga berhasil membangun fashion brand mereka sendiri dan yang paling penting, brand tersebut sangat "mereka banget". 

It reflects their DNA, their journey and their authenticity. As a muslimahpreneur, running my own business, I find this deeply inspiring. Because at the end of the day, bisnis yang kuat adalah bisnis yang punya cerita.

Blogging Taught Me More Than I Realized

Honestly, blogging shapped who I am today. Dari menulis blog, aku belajar storytelling, consistency dan how to connect with people on a deeper level. It wasn't just about fashion anymore. It became about life. Tentang perjalanan menjadi seorang perempuan, seorang entrepreneur dan seorang muslimah yang terus belajar.

Even now, di tengah dunia yang serba digital dan cepat, I still hold onto that blogging spirit. Menulis dengan hati dan sharing dengan tulus.

Why I Still Believe in Bloging?

Meskipun sekarang banyak platform baru bermunculan, I still believe blogging has its own magic. Blog adalah "rumah" kita, tempat di mana kita bisa bercerita tanpa batas, tanpa tekanan dan mungkin yang paling aku rindukan adalah perasaan itu, when writing felt like therapy, not strategy.

Now, I still write in my personal blog, cilyainwonderland.id, sharing my daily stories, about travel, fashion, beauty, business and life as a muslimahpreneur.

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

But I also created something since 2020: yumnamagz.id, an online magazine platform where I share articles about fashion, beauty and business.

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose


This is my way growing. From personal storytelling... to creating a space for wider impact.

My Hope Moving Forward

Semoga dari tulisan-tulisan kecilku, dari perjalanan yang aku bagikan, dan dari brand yang aku bangun, I can inspire others. Just like Diana Rikasari and Clara Devi inspired me back then. 

Because sometimes, you never know tthat your story, your blog and your small post. Might be the beginig of someone else's dream.

Blogging mungkin sudah banyak berubah. Platform datang dan pergi. Trends evolve. But one thing remains the same: Stories will always matter. Dan selama masih ada cerita yang ingin dibagikan, aku akan terus menulis. 

Because at the end of the day, this is not just about fashion. This is about leaving a piece of ourselves in every word we write.




Ayam Bakar Papa. A Taste of Love, Legacy and Memories

Tidak ada komentar

 

Ayam Bakar Papa. A Taste of Love, Legacy and Memories

Ada satu aroma yang selalu bisa membawa aku kembali ke masa lalu... the smell of Ayam Bakar. Bukan sekedar ayam bakar biasa, tapi Ayam Bakar buatan Papa. with that signature Gorontalo spices, rich slightly sweet, and keep deeply comforting.

Setiap kali aku mencium aroma rempah yang terbakar di atas bara api, rasanya seperti dipeluk oleh kenangan. Papa selalu punya cara spesial dalam meracik bumbu. "Ini bukan cuma masakan, ini rasa," kata beliau dulu. Dan memang benar, karena Ayama Bakar Papa bukan hanya tentang rasa di lidah, tapi juga rasa di hati.

The Beginning: A Small Resto Kios, Big Dreams

Ayam Bakar Papa. A Taste of Love, Legacy and Memories

Tahun 2010 sampai 2012, we decided to turn that love into a small business. Kami buka kios sederhana di sekitar BSD Tangerang dengan nama restonya: "Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo". Ngga terlalu besar, tapi selalu ramai. Alhamdulillah, peminatnya banyak. Bahkan sering kehabisan sebelum waktu tutup. Banyak pelanggan yang balik lagi karena katanya "beda banget rasanya...".

Ayam Bakar kami punya ciri khas bumbu rempah khas Gorontalo yang kuat, tapi tetap ada sentuhan manis yang lembut. It was comfort food, but also something unique. Tapi di balik ramainya mini resto di kios itu, ada cerita lain yang ngga banyak orang tahu.

The Hard Truth About Business: It's Not Always About Profit

Banyak orang pikir kalau bisnis tutup itu karena rugi. But in our case, it wasn't. Kami justru tutup saat kondisi lagi bagus. Maslahnya ada di SDM (Sumber Daya manusia). Pegawai sering keluar masuk, sulit mencari yang benar-benar bisa dipercaya dan konsisten. lama-lama, aku dan Papa mulai lelah. 

Managing people is sometimes harder than managing the business itself. 

Akhirnya, dengan berat hati... kami memutuskan untuk tutup. Banyak yang menyayangkan, bahkan sampai sekarang masih ada yang tanya, "Kapan buka lagi?"

Dan setiap kali ditanya itu... ada rasa hangat sekaligus sedih di hati.

Restarting the Journey: The Digital Era

Tahun 2017, saat platform seperti GoFood dan GrabFood mulai booming, aku mulai berpikir... maybe it's time to try again. We didn't open mini resto at kios this time. Kami mulai daru rumah.

Aku jualan dari rumahku dan Papa Mama juga dari rumah mereka. Simple, lebih manageable dan tetap bisa menjaga kualitas rasa dan ternyata... still works!

Pelanggan lama Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo kembali, pelanggan baru pun berdatangan. It Felt like the past came back, but in a different form. Kami jalani bisnis ini sampai sekitar tahun 2020.

When Life Happens...

Pandemi datang dan semua berubah. Papa saat itu kena Covid. It was one of the hardest moments in our lives. Tanpa banyak pertimbangan, kami memutuskan untuk stop jualan. Fokus kami hanya satu yaitu kesehatan Papa. Dan sejak saat itu, kami belum pernah benar-benar memulai lagi.

A Recipe That Lives in the Heart

Tahun 2024, Papa berpulang 😢😢.

Dan sejak itu, setiap kali aku mendengar kata Ayam bakar, hatiku langsung penuh. Bukan hanya karena rasanya, tapi karena semua kenangan di baliknya. 

Resep itu masih ada. Aku dan adik-adik juga membuatnya. The spices, the technique, the process... semuanya masih kami ingat.

But Somehow, it's not just about cooking. Ada rasa yang belum siap untuk dihidupkan kembali. Karena bagi kami, ayam bakar itu bukan sekedar makanan. Itu adalah simbol cinta, perjuangan dan kebersamaan dengan papa.

Maybe... Someday

Kadang aku berpikir, mungkin suatu hari nanti, the heart is ready, kami akan mulai lagi. Bukan hanya untuk bisnis, tapi untuk menjaga warisan. Untuk mengenang Papa, dengan cara yang paling beliau cintai.

Cooking!

Untuil then, biarlah ayam bakar itu tetap hidup di hati kami. A quiet legacy, wrapped in spices, sweetness and love.

Insha Allah, Someday... we will bring Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo back to life 💕💕




5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis

1 komentar

 

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Assalamualaykum,

Kali ini aku mau bahas seputar tonton-an channel YouTube favorit aku. Sebenarnya aku banyak ya subscribe YouTube Channel, mulai dari tema masakan, traveling, Journaling, Modest Fashion sampe YouTube Channel teman-teman sesama Vlogger dan Blogger. Sebagai salah satu Mompreneur dan juga Muslimahpreneur, aku selalu percaya bahwa growth is intentional. 

Growth itu harus diupayakan. Salah satu cara aku upgrade diri adalah dengan rutin menonton podcast dan YouTube channel yang insightful. Di sela-sela jadwal handle jamaah umroh, meeting dan kasih mentoring atau bahkan ngurusin my modest fashion collection, sampai urus stok AHP, aku punya me-time sederhana: watching inspiring YouTube channels sambil minum kopi atau coklat hangat. 

5 channel favoritku yang benar-benar memberi impact.

1. Purwadhika Digital Technology School

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Aku suka banget episode yang menghadirkan Pak Andin Rahmana dan Bu Mandy Purwa Hartono. Insight mereka tentang digital business, marketing & Sales relate dengan perjalanan bisnisku. 

Sebagai owner dari beberapa bisnis, digital marketing is no longer optional. Dari channel ini aku belajar bagaimana pentingnya adaptasi teknologi, personal branding, marketing dan sistem bisnis yang sustainable. Rasanya seperti ikut kelas singkat tapi powerful.

2. Hamimommy & Honeyjubu

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Honestly, ini guilty pleasure tapi juga productive pleasure sih. Channel mereka (ini dua channel berbeda btw), berisi kegiatan beres-beres rumah, masak, daily routine dalam format ASMR yang calming banget.

Kadang setelah seharian meeting atau aktivitas syiar di luar, aku nonton ini untuk recharge energy. Anehnya, habis nonton malah jadi semangat beres-beres rumah, kulkas, food wrap hahaha. It reminds me bahwa being productive doesn't always mean being busy, sometimes it means being present.

3. Creativera

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Ini salah satu channel podcast favoritku untuk belajar seputar branding dan business strategy. Narasumbernya selalu berbobot dan real practitioner. Ternyata di Indonesia banyak juga lho anak muda atau bahkan generasi milenial yang bagus banget ilmunya.

Sebagai muslimahpreneur, aku sadar bahwa branding bukan cuma soal logo atau feed instagram yang setetik. Branding is about value, story dan consistency. Dari sini aku belajar cara positioning bisnis travel haji umroh dan modest fashion aku supaya punya diferensiasi yang  kuat di market.

4. The Balance Theory

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Podcast ini fokus pada self development dan confidence building. YouTube Channel ini dari luar negeri dan tentunya full bahasa Inggris dan ini jadi melatih aku juga pronunciation English aku. Aku merasa sebagai perempuan muslimah, penting banget untuk punya self worth dan clarity in life.

Listening to this podcast membuatku lebih mindful dalam mengambil keputusan bisnis, lebih tenang menghadapi tantangan dan lebih percaya diri saat berbicara di depan tim maupun jamaah.

5. Aziza Francienne

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Aku suka dengan perjalanan Aziza dalam berhijab (ini channel YouTube orang Indo ya btw). Dia suka sharing mengenai aktivitasnya kuliah, bekerja di Inggris serta explore kuliner halal dan tempat-tempat menarik di UK.

Cerita-ceritanya bikin aku tambah kepingin banget tinggal di London - UK. Yang aku pernah sharing di beberapa tulisan blog aku sebelumnya kalau aku dari kecil suka banget sama London - UK. Mulai dari dialek bahasanya yang khas, bangunannya serta culture nya. Apalagi sekarang makin banyak orang Islam di sana. I realize that being global muslimah itu nyata. Kita bisa tetap berhijab, tetap ambitious dan tetap humble.

Manfaat Nonton Podcast untuk Bisnis & Self Development

Aku selalu catat inti dari apa yang aku dapat setelah nonton Youtube channel mereka terutama yang membantu dalam perkembangan bisnis juga diri aku pribadi. Dari lima channel ini, aku merasakan banyak manfaat:

  • Menambah ilmu bisnis, marketing, sales dan strategi branding
  • Memperkaya vocabulary dan cara berbicara profesional
  • Membuka minset baru untuk self growth
  • Menjadi motivasi untuk terus upgrade diri
  • Menumbuhkan semangat berbagi positive vibes

Sebagai blogger, muslimah speaker, muslimah influencer juga pebisnis, aku merasa tanggung jawab untuk share hal-hal baik di media sosial. Because when we share knowledge, we create impact. Dan semoga setiap insight yang aku bagikan ke follower menjadi amal jariyah untukku kelak.

Apakah kamu juga punya YouTube Channel favorit? Yuk sharing nama YouTube Channelnya dan manfaat apa yang kamu dapatin setelah nonton di kolom komen ya...💗



Gaya Hidup Minimalist Lewat Sustainable Modest Fashion

Tidak ada komentar

 

Gaya Hidup Minimalist Lewat Sustainable Modest Fashion


Assalamualaykum,

Siapa yang lemari bajunya numpuk dengan baju baju tapi masih saja bilang ngga punya baju? Hehehe... aku termasuk golongan ini 😁. But one thing for sure, aku belajar satu hal penting: hidup itu tentang balance. Balance antara ambisi dan syukur, antara growth dan simplicity.

Di tengah era ekonomi yang sedang naik turun ini, aku mulai bertanya pada diri sendiri, "Do I really need new clothes every season?" Jawabannya ternyata sederhana yaitu tidak selalu. Aku memilih untuk mencoba minimalist modest fashion lifestyle. Bukan karena tidak mampu membeli yang baru, tapi karena ingin lebih mindful dalam setiap keputusan. Especially soal fashion.

1. Upcycling Fashion: Old But Gold

Gaya Hidup Minimalist Lewat Sustainable Modest Fashion


Salah satu yang aku lakukan adalah
Upcycling Fashion. Ini bukan sekadar memakai baju lama, tapi proses kreatif untuk meningkatkan nilai pakaian lama menjadi sesuatu yang lebih estetik dan fungsional tanpa merusak bahan dasarnya.

Misalnya ada tunik lama yang warnanya masih cantik tapi modelnya terlalu basic. Aku tambahkan bordir kecil di bagian lengan atau mengganti kancingnya dengan yang lebih unik. Sometimes, I even add lace detail supaya terlihat lebih feminine.

Rasanya menyenangkan sekali ketika ada yang bilang, "MasyaAllah, bajunya baru ya?". Padahal itu hasil kreativitas dari lemari sendiri 😉.

Upcycling ini juga mengajarkan bahwa keberkahan itu seringkali tersembunyi dalam apa yang sudah kita miliki.

2. Refashion: Reuse with Style


Selanjutnya, aku mencoba
Refashion. Ini adalah tren fesyen yang fokus pada reuse pakaian lama dengan mengubah desainnya agar lebih modern.

Contohnya gamis lama aku yang modelnya terlalu lebar, aku potong sedikit dan tambahkan belt agar terlihat lebih structured. Atau scarf lama yang ukurannya besar, aku ubah menjadi outer yang chic untuk dipakai ke mall atau ke kantor aku.

In this economic climate, being stylish doesn't mean being wasteful.

Sebagai pebisnis modest fashion, aku justru merasa lebih autentik ketika bisa menunjukkan bahwa elegan itu bukan tentang harga, tapi tentang bagaimana kita membawa diri.

Refashion membuatku lebih kreatif dan lebih sadar bahwa style is not about trends, it's about identity.

3. Rework: Mixing Stories into One Outfit

Yang paling seru adalah Rework. Ini biasanya aku lakukan ketika menemukan dua pakaian lama yang sudah jarang dipakai.

Aku pernah menggabungkan dua kemeja berbeda, satu dengan motif floral, satu polos, lalu dijadikan satu desain baru dengan teknik patchwork sederhana. Hasilnya? Totally unique. Tidak ada yang sama.

Rework itu seperti hidup. Sometimes Allah combine different chapters of our life to create a better story. Begitu juga pakaian. Dua potong kain lama bisa berubah menjadi satu outfit dnegan karakter yang kuat.

Hidup minimalis bukan berarti hidup kekurangan. For me, minimalism is about intentional living. Memilih dengan sadar, membeli dengan bijak dan menggunakan dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai muslimahpreneur, aku ingin menunjukkan bahwa sustainable modest fashion itu bukan sekadar tren, tapi bagian dari nilai hidup.

Ekonomi boleh naik turun. tren boleh berubah. Tapi prinsip untuk hidup sederhana, elegan, dan penuh syukur itu ingin terus aku jaga. Karena pada akhirnya, style terbaik adalah ketika hati kita merasa cukup 💕💗




Me Time Ku: Jurnaling & Watching Movies adalah Cara Aku Merasa Lebih Hidup

1 komentar

 


Me Time Ku: Jurnaling & Watching Movies adalah Cara Aku Merasa Lebih Hidup


As a Mom and as a Mompreneur, aku belajar satu hal penting, being productive doesn't mean forgetting yourself. Di balik jadwal padat, meeting, live selling tanpa henti dan target bisnis yang harus dicapai, aku tetap butuh waktu untuk terkoneksi dengan diri sendiri. That's where me time becomes sacred.

Dulu aku berpikir me time itu harus mewah: spa, staycation, atau liburan jauh. Tapi semakin dewasa, aku sadar bahwa me time is about presence. Tentang bagaimana aku benar-benar hadir untuk diriku sendiri. Cara paling sederhana namun bermakna bagiku adalah jurnaling dan menonton film (baik itu di Netflix, Disney Channel atau VIU...I think they should pay me for endorsement 😁 )

Jurnaling: Percakapan Jujur dengan Diri Sendiri

Jurnaling adalah ritual kecil yang selalu aku sempatkan, usually di pagi hari setelah subuh atau malam sebelum tidur. Dengan secangkir minuman kesehatan yang hangat, aku membuka jurnal dan mulai menulis tanpa beban. tidak harus rapi, tidak harus puitis. Just write!

Aku menulis tentang apa yang aku rasakan hari itu, rasa lelah, syukur, harapan, quotes, bahkan ketakutan. As a muslimah, journaling juga menjadi bentuk muhasabah. Aku sering menyelipkan doa, ayat yang menenangkan, atau sekedar kalimat sederhana: "Ya Allah, hari ini aku ingin lebih tenang, damai dan bahagia."

This simple habit helps me reconnect with my soul. Jurnaling membuat aku lebih aware dengan emosi ku, lebih lembut pada diri sendiri, dan lebih jujur tentang apa yang sebenarnya aku butuhkan. In a world that constantly asks us to be strong, journaling allows me to be soft.

Movies Time: Healing with Stories

After a long day, my other favorite me time is watching movies. Kadang Netflix, kadang VIU atau kadang Disney Channel. I Know, it sounds simple, but it works.  Aku biasanya memilih film romantic comedy yang ringan atau drama Korea dengan cerita hangat dan visual yang menenangkan. Ngga jarang juga sih nonton drama Cina atau bahkan juga India ..hahahaha....

Ada sesuatu healing dari melihat kisah cinta sederhana, keluarga dan perjalanan hidup orang lain. Menonton drama Korea sambil rebahan is my version of self-care. It reminds me that life doesn't always have to be rushed. Kadang, aku tertawa sendiri. Kadang, aku menangis pelan. And both are okay.

Me Time sebagai Bentuk Syukur

Buatku, me time bukan bentuk pelarian dari tanggung jawab, tapi justru cara untuk kembali dengan energi yang lebih utuh. Ketika aku menjaga diriku, aku bisa lebih hadir untuk keluarga, bisnis dan orang-orang yang aku layani.

Sebagai muslimahpreneur, aku percaya bahwa merasa hidup bukan tentang doing more, but about feeling deeper. Dengan jurnaling dan Netflix time, aku belajar mencintai proses, menikmati jeda dan mensyukuri setiap fase kehidupan.

Because at the end of the day, a calm heart is also a success 🤍






4 Circle Pertemanan dalam Hidup ku: Antara Persahabatan, Bisnis dan Jannah Goals

Tidak ada komentar

 

4 Circle Pertemanan dalam Hidup ku: Antara Persahabatan, Bisnis dan Jannah Goals


Assalamualaykum,

Berjalan di fase hidup saat ini, I realize one thing: hidup terasa jauh lebih kaya bukan karena banyaknya pencapaian, tapi karena siapa saja yang berjalan bersama kita. As a muslimahpreneur juggling several business and my role as a blogger, I'm blessed to have empat circle pertemanan yang masing-masing memberi warna berbeda dalam hidupku.

Circle pertama adalah sahabat aku di Junior Middle School friends. Mereka adalah saksi versi diriku yang paling polos, paling jujur dan penuh tawa tanpa beban. Setiap bertemu, rasanya seperti time travel, kembali ke masa di mana masalah hanya soal PR belum selesai. Dari mereka, aku belajar tentang loyalty and unconditional friendship. No matter how far life takes us, hati kami tetap saling terhubung.

Lalu ada circle High School Best Friends, yang tumbuh bersama di masa pencarian jati diri. This circle reminds me of dreams, ambitions, and the courage to start. Kami sering berbagi cerita tentang keluarga, putus cinta zaman sekolah dulu, anak, karier dan perjalanan hidup yang tidak selalu mulus. Di sini aku belajar empati dan respect each other, bahwa setiap orang punya timeline-nya sendiri.

Circle ketiga adalah circle sahabat muslimah. this one feels like a spiritual recharge. Kami saling mengingatkan tentang iman, adab dan tujuan hidup. Obrolan kami sering berujung pada refleksi: sudah sejauh mana kita berjalan menuju Allah? Dari circle ini, aku belajar no judging person, karena setiap hari sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Circle aku ini menenangkan, grounding and healing.

Terakhir, circle teman sharing bisnis. This is where growth happens intensely. Diskusi strategi, sharing peluang sampai brainstorming ide sering membuka wawasan baru. Rezeki feels wider when networking is built with sincerity. Dari circle ini, aku belajar bahwa kolaborasi jauh lebih indah daripada kompetisi, dan mindset positif benar-benar menentukan arah bisnis.

Of course, every blessing comes with small challenges. Dukanya, sometimes ada argumen kecil ketika bertemu, tapi never significant enough to break the bond. When schedules get packed, I do feel overloaded. And yes, kadang terlalu banyak insight datang bersamaan, making me pause and choose again: mana yang paling selaras untuk dijalankan, baik untuk kehidupan pribadi maupun bisnis.

Namun manfaat memiliki circle pertemanan jauh lebih besar. Secara prikologis, it helps reduce stress. Ada tempat berbagi, tertawa, kuliner bareng bahkan menangis tanpa dihakimi. Having friends who listen is a form of rezeki that money can't buy.

Seiring bertambahnya usia, aku tidak lagi ingin memiliki terlalu banyak circle. Wisdom teaches me to choose quality over quantity. Pertemanan yang membawa kita lebih dekat pada Allah, lebih bertumbuh dalam bisnis dan lebih damai dalam hidup, itulah yang ingin aku jaga. Because at the end of the day, tujuan kita bukan sekadar sukses di dunia.

Jannah is the goals dan harapan ku circle yang ada hari ini, adalah bagian dari jalan indah menuju-Nya 🤍





My Reading Commitment This Year: Feeding the Mind and the Soul

Tidak ada komentar

 



Assalamualaykum,

Bismillah. Tahun ini aku ingin lebih intentional dengan hidup. Bukan hanya soal business goals, travel schedule, atau launching produk baru, tapi juga tentang what I feed my mind and soul. Sebagai seorang muslimahpreneur yang sehari-harinya juggling antara bisnis travel haji umroh, wisata halal, modest fashion, healthy drink dan menulis blog, membaca adalah one of my quiet luxuries. A small pause in a busy day, yet powerful enough to realign my heart.

This year, I set a simple but meaningful target: 4 buku untuk dibaca secara konsisten. Sounds simple, right? But for me, it's not about quantity, it's about presence.

Yang pertama tentu saja Al-Qur'an. I know, technically it's not a book, tapi a holy scripture that guides my entire life. Tahun 2024 aku bisa khatam 5 kali dalam setahun. Masya Allah, I was so proud of that. Tapi jujur, tahun 2025 menurun drastis, hanya 2 kali khatam. 

Sedih? Iya banget. Karena itulah, tahun ini aku menargetkan minimal 3 kali khatam, dengan doa besar semoga bisa 4 kali atau lebih. Al-Qur'an is not just something to finish, but something to live with. Every Ayah feels like a personal reminder when read with a calm heart.

Buku kedua adalah "Taman Cinta" karya Khalil Gibran. I've loved his works since high school. There's something about his romantic, poetic sentences that feels timeless. Kalimat-kalimatnya sejuk, gentle dan seperti pelukan hangat untuk jiwa yang lelah. When life feels loud, meeting here, deadline there, Gibran reminds me to slow down and feel.

Next is "Why The Rich Are Getting Richer" by Robert T Kiyosaki. This one is more practical, more "business minded". I want to reread and refresh my understanding about business, investing and building income streams. As someone who runs multiple businesses, I believe revisiting fundamental is important. Sometimes we don't need new knowledge, we just need to remember what we already know but forgot to apply.

The fourth book is "Don't Sweet the Small Stuff in Love" by Richard Carlson, Ph.D. and Kristine Carlson. This book gently reminds us not to make small issues a big deal i relationship. As a wife partner, and woman who wears many hats, this book feels like a soft whisper: choose peace, choose understanding.

So how do I stay committed? This is my way:
  1. Read Al-Qur'an after every sholat, minimum 5 ayah. Small but consistent.
  2. Rotate the other three books, so I don't get bored. I pause after an interesting chapter, then move to another book.
  3. Always bring a book in my bag, especially when I know there will be waiting time during trips.
  4. Use cute and meaningful bookmarks. Yess, this matters more than people think.
  5. Journal every morning before work, writing down quotes or insight. It makes me more excited to read and more mindful in journaling.

Bismillah, semoga bisa komitmen. Because reading, for me, is not an escape. It's a return. Back to purpose, faith, and calmer version of myself.






5 Places That Heal My Soul When Burnout Hits

Tidak ada komentar

 

5 Places That Heal My Soul When Burnout Hits


Sebagai seorang muslimahpreneur yang menjalani beberapa bisnis, burnout is not a stranger to me. Add to that my role as a blogger who loves to share daily journey, reflections and behind the scenes of life, sometimes my mind feels too full and my heart needs a pause.

Over time, I realized that healing doesn't it always mean stopping completely. Sometimes, it means changing places. These are the five place that always inspire me, calm me, and gently remind me of who I am and why I started.

1. A Cozy Cafe 

Cafe is my space. Not the noisy one, but a calm corner cafe where the aroma of coffee feels like a warm hug. I usually order a cup of coffee or warm chocolate milk, paired with a small snack, nothing fancy, just comforting.

Di sini, aku bisa membuka laptop dengan tenang. Sometimes I write a blog post, sometimes I reply emails, or simply reorganize my thoughts. The soft background music and gentle clinking of cups somehow slow my racing mind. Cafe moments remind me that productivity doesn't have to feel rushed. It can be soft, mindful and enjoyable.

2. Perpustakaan 📚

There is something magical about libraries. The silence, the smell of books, and the feeling of being surrounded by knowledge instantly calm me down.

Di perpustakaan, aku sering membaca novel luar negeri untuk refreshing dan membantu pembendaharaan kosakata aku dalam berbahasa Inggris. Kadang aku baca buku tentang fashion, branding dan business motivation. Reading helps me escape pressure while still growing. It's like resting, but smarter. Libraries remind me that growth can be quiet and elegant, not always loud or competitive.

3. Mekkah dan Madinah 🕋

This is where my soul truly breathes.

Saat berada di Mekkah dan Madinah, aku tetap seorang businesswoman, but only 20%. The remaining 80% is a servant, a daughter of Allah who comes with stories, worries, gratitude and tears.

Umroh is my deepest therapy. I curhat to Allah about anything, like business decisions, exhaustion, fears, and dreams. The atmosphere teaches me perspective: that no matter how big my workload feels, it is still small compared to the purpose of life. Di sini burnout berubah menjadi tawakal.

4. My Parents' House 🏡

Pulang ke rumah orang tua is like pressing a reset button.

chit chat tipis-tipis dengan Mama, sharing hal-hal kecil yang ternyata berarti. Sometimes laughing with siblings, sometimes just sitting together without talking much. Di rumah ini, aku bukan CEO, bukan founder, bukan blogger. I am simply "anak rumah".

This place reminds me that love doesn't require achievements. Just presence.

5 Pantai 🌊

The beach is where my thoughts dissolve.

Menikmati angin pantai, suara deburan ombak dan langit yang luas make me feel small in a good way. The ocean teaches patience and consistency. Waves come and go, just like a problems.

Di pantai, aku belajar bahwa burnout is not a failure. It's a signal to pause, breathe and realign.

These five places shape my healing journey. They remind me that a muslimahpreneur can be ambitious and soft at the same time. And when burnout comes again (as it always does), I know exactly where to go 🤍.